Thursday, February 9, 2017

Empat Jenis Manusia



Menurut Imam Al Ghazali, manusia terdiri dari empat jenis.

Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang tahu (berilmu), dan dia tahu kalau dirinya tahu).

Kita bisa menyebutnya orang ‘alim (mengetahui). Jika ada orang yang seperti ini, maka ikutilah. Apalagi kalau kita masih awam, sedikit ilmunya, yang masih butuh banyak diajari. Sudah sepatutunya kita duduk bersamanya untuk bertolabul ilmi.

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang tahu (berilmu), tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu).

Banyak jenis manusia seperti ini disekeliling kita. Ada orang memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi.

Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu).

Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, manusia jenis ini mampu menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia mau belajar.

Dengan belajar, diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Manusia seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat.

Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu), dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu).

Menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Manusia dengan jenis ini adalah manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa.

Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, jika diingatkan malah membantah karena ia merasa tahu atau merasa lebih tahu.

Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya. Manusia seperti ini dinilai tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat.

Yuk evaluasi diri kita, tergolong manusia yang manakah kita?

Instagram Mengajari Saya

Instagram mengajari saya, bahwa terlihat cantik itu mudah dengan pilihan berbagai filter yang disediakan.

Instagram juga mengajari saya, bahwa terlihat cantik itu mudah dengan berbagai pose dan angle pengambilan gambar.

Instagram pula yang mengajari saya, bahwa apa yang terlihat cantik belum tentu berakhlak cantik.

Coba tengok berapa banyak perilaku tidak baik di instagram: komentar pedas, hujatan kasar, bahkan tempat gosip-pun pindah ke instagram.

Nah, masih ingat doa ketika bercermin (berkaca atau berhias) ?

Mungkin bisa diucapkan ketika sedang selfie ya 🙈

Hayo ngaku, yang biasa selfie pasti ngaca ke layar HP kan ya? 🙈🙈

'Allaahumma kamaa hassanta kholqii fa hassin khuluqii'

'Ya Allah sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku'

Amiiin..
Semoga makin cantik akhlak kita :).

Nah kalau foto ini adalah contoh pengambilan gambar menentukan tinggi badan seseorang. Alhamdulillah bisa kelihatan tinggi ya :D

Sunday, June 12, 2016

Kata Ibuku


Kata Ibuku
Adieba Warda Hayya
            “Kata Ibuku aku adalah anak yang belum direncanakan, tapi kata Tuhan Yang Maha Asyik, aku adalah anak yang sudah dimenangkan.”

            Takbir berkumandang di seluruh jagat raya. Puji-pujian teruntuk Tuhan Yang Maha Esa senantiasa dilantunkan. Kubuat iringan suara takbir dengan dentuman piring dan sendok. Aku sedang menanti opor ayam yang sedang dihangatkan. Ya, lebaran kali ini penuh dengan kehangatan karena menu utamanya yakni opor ayam sudah dibuat kemarin, menyusul keputusan Pemerintah yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011 setelah melakukan pengamatan terhadap hilal dan sidang isbat. Meskipun hari raya Idul Fitri kali ini terdapat perbedaan menentukan jatuhnya 1 Syawal, namun kami sesama muslim saling memiliki sikap toleransi dengan apa yang diyakini masing-masing.
            Kehangatan itu juga milik keluargaku. Aku semakin dekat dengan mereka karena banyak waktu libur lebaran yang panjang kuhabiskan di rumah. Malam itu obrolan ringan keluargaku memenuhi ruang keluarga kami. Kakakku bercerita tentang proses kelahiran anak temannya. Katanya, bayinya lahir prematur. Ia juga bercerita bagaimana panjang dan juga betapa sakitnya proses kelahiran. Dengan mata terbelalak kupastikan tidak ada kata yang luput dari pendengaranku. Aku mendengarkan dengan seksama.
            Kucari Ibuku, dan kubawa menuju ruang keluarga. Aku dan kakakku ingin mendengar sendiri bagaimana Ibu melahirkan kami.
            “Ayo Bu ceritakan bagaimana Ibu melahirkanku.”pinta kakakku.
            “Aku juga aku juga.”tandasku.
            Ibuku pun bercerita bagaimana perjuangannya melahirkan anak pertamanya, Norma Fitra Pusta Rahma. Kakakku dilahirkan di Kendal 21 tahun yang lalu. Kelahirannya di sana memang sudah direncanakan. Hari-hari menuju kelahiran kakakku, Ibuku merasa mulas. Ibu berfikir penyebabnya adalah rujak dengan sambal pedas yang telah dimakannya. Berlanjut dengan cerita kakakku yang kedua, namanya Robby Faqqi Muhammad. Dua puluh tujuh bulan setelah melahirkan putri pertamanya, Ibu melahirkan kakakku Robby di RSUD Kudus dengan berat 4 kg dan tinggi 51 cm. Ibuku selalu mengucapkan “Allahu Akbar” ketika prosesi kelahiran sedang berjalan. Ibu mendapat pujian dari dokter yang menanganinya karena bayinya yang besar.
            Berlanjut dengan cerita kelahiranku. Aku dilahirkan di RS Siti Khadijah Kudus pada tanggal 28 Maret 1994. Aku terkesima dengan perjuangan Ibuku untuk melahirkan anak-anaknya.
            “Dulu Ibu mau menggugurkan kamu dik.”
            “He?”
            Aku sontak terkejut dengan kata-kata ibuku. Aku langsung meminta pejelasan dari Ibuku. Katanya, Ibuku sudah melakukan program KB sehingga ia hamil di luar dugaan. Mengingat kedua kakakku yang masih kecil-kecil, Ibuku takut. Ibu pun sampai merengek-rengek kepada Bapakku.
            “Yang tidak mempunyai suami saja pengen punya anak. Kamu punya suami kok malah tidak mau punya anak.” papar Bapak.
            Ibuku mencoba menggugurkanku dengan berbagai cara diusiaku yang masih dua bulan dalam kandungan. Ibu mencoba memakan nanas, melakukan olahraga yang sekiranya berat seperti kayang, tetapi Tuhan sudah mempunyai kehendak. Ketika aku diberi nyawa oleh-Nya pada saat umur empat bulan dalam kandungan. Ibuku akhirnya menghentikan perbuatannya, ibu ikhlas untuk mendapat titipan dari Tuhan. Ibu kemudian merawatku hingga lahir, bahkan sampai di usia ke tujuh belasku ini.
            Tidak ada rasa benci pada Ibuku. Aku memahami apa yang dirasakan Ibuku saat itu. Kami semua tertawa mendengar cerita darinya. Lebaran kali ini penuh kehangatan, kejujuran dan tentunya kemenangan bagi kita semua.


*Mencoba memposting tulisan zaman ABG :'D semoga termotivasi untuk menulis lagi

Wednesday, November 11, 2015

Refleksi PPL di Thailand




Foto bersama Bapak Yunardi selaku Atase Pendidikan KBRI Bangkok dan Ibu Wati, kepala Sekolah SIB (Sekolah Indonesia Bangkok) serta teman-teman PPL Unnes di Thailand, setelah mendapat kesempatan untuk menceritakan pengalaman PPL di sekolah masing-masing. Disana Bapak Yunardi memberikan banyak cerita, nasihat, dan harapan beliau kepada kami sebagai calon pendidik.

Selesai acara tersebut beliau berkata, “Salam untuk Ibu kalian, yang luar biasa membesarkan orang hebat seperti kalian,”

Pertemuan itu diakhiri dengan tumpahan air mata yang tak terbendung lagi. Saya melihat teman-teman pun menangis karena ucapan salam beliau untuk ibu kami.

-Foto diambil pada hari Senin (19/10) di KBRI Bangkok-